Risiko Perawatan Gigi dan Mulut pada Pasien Infark Miokardium

Perhatian utama adalah pada pasien infak miokardium dapat terjadi serangan infak kembali saat melakukan perawatan gigi dan mulut.Selanjutnya, dokter yang merupakan staff pengajar FKG UI ini menjelaskan bahwa kemungkinan terjadinya risiko ini berhubungan erat dengan jarak antara terjadinya infak dan perawatan gigi dan mulut. Pasien infak miokardium mempunyai risiko tertinggi pada enam bulan pertama.Risiko menengah terjadi antara eanm sampai dua belas bulan setelah infak,dan risiko terendah adalah saat waktu infak sudah melebihi dua belas bulan.

infark miokard

Selanjutnya Drg.Dwi menjelaskan bahwa selain berhubungan dengan waktu terjadinya infak, risiko terjadinya infak kembali juga berhubungan dengan tipe tindakan yang dilakukan.”Semakin kompleks tindakannya,semakin besar pula risikonya,”tegasnya.Contoh tindakan yang mempunyai risiko besar yaitu operasi pengangkatan gigi geraham bungsu yang terpendam dalam tulang rahang.Ada juga tindakan beresiko sangat tinggi,seperti tindakan perawatan gigi dan mulut yang membutuhkan bius total,terutama yang dilakukan pada enam bulan pertama yang berisiko infak kembali sampai 50-80%, dengan angka kematian yang tinggi.

Risiko kedua pada pasien infak miokardium adalah risiko perdarahan saat melakukan perawatan gigi dan mulut. Pasien dengan infak miokardium biasanya diberi obat-obat pengencer darah atau antitrombotika agar aliran darah ke jantung lancar.Drg.Dwi menghimbau kepada para dokter gigi untuk bisa menggali informasi apakah pasien sedang mengkonsumsi obat antitrombotika atau tidak.”Pada saat pasien minum antitrombotik,gigi tidak boleh dicabut karena bisa terjadi perdarahan yang sulit diatasi”,jelasnya.

Kerjasama yang Baik antara Dokter Gigi dan Dokter Jantung

Drg.Dwi menuturkan bahwa kerjasama antara dokter gigi dan dokter jantung sangatlah penting untuk memastikan bahwa kondisi pasien aman untuk tindakan perawatan gigi dan mulut yang akan dilakukan. Perawatan gigi dan mulut paling baik dilakukan 12 bulan setelah serangan infak mikardium,dimana risiko terjadinya serangan ulangan paling rendah.Namun demikian, dengan kerjasama yang baik tetap dapat dilakukan meski sebelum 12 bulan pasca infak.

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya dikonsultan dulu kepada dokter jantungnya bila akan dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kontraindikasi tindakan pencabutan gigi,dan apakah risiko pada penyakit jantungnya ringan,sedang atau berat.Selain itu penting juga dilihat jenis penyakit jantung yang dialami pasien.Misalnya pasien dengan panyakit katup atau yang menggunakan prostese (katup buatan) perlu diberikan profilaksi antibiotika seperti pemberian amoksisilan 2 garam satu jam sebelum tindakan pencabuatan gigi.Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya Bacterial Endocarditis atau infeksi katup jantung.

Untuk pasien dengan penyakit jantung koroner biasanya dokter gigi mengkonsultasikan pasien kepada dokter jantung untuk menerima penghentian antitrombotik 3-5 hari sebelum tindakan.Jika menurut dokter jantung kondisi pasien aman jika obat antitrombotik dihentikan,maka obat itu dapat dihentikan.Setelah 5 hari tidak meminum obat maka pencabutan gigi bisa dilakukan dengan aman.Biasanya dokter gigi juga melakukan penjahitan luka pencabutan gigi untuk mengurangi perdarahan yang mungkin terjadi.

Persiapan Tindakan

Menurut Drg. Dwi sebelum melakukan tindakan,sebaiknya ditanya mengenai obat apa yang sedang dikonsumsi,atau bahkan pasien diminta untuk menunjukkan obatnya.Tanyakan juga apakah pernah dirawat di rumah sakit dan mengapa pasien dirawat.Sebelum dilakukan tindakan sebaiknya pasien diperiksa tekanan darahnya.Persiapan tindakan gigi sebaiknya termasuk juga diskusi singkat dengan dokter pribadi pasien apabila perlu.

Penting juga untuk mengurangi stres pada pasien dengan melakukan komunikasi yang baik dengan pasien.Tindakan juga sebaiknya dilakukan pada pagi hari.Drg.Dwi juga menyarankan agar di ruangan tempat melakukan tindakan sebaiknya disediakan tabung oksigen untuk persiapan apabila pasien mengalami serangan. Sesungguhnya tempat terbaik untuk melakukan tindakan perawatan gigi dan mulut pada pasien berisiko tinggi seperti pada pasien infak miokardium adalah di rumah sakit karena dapat dilakukan tindakan yang cepat apabila terjadi serangan.”sewaktu-waktu terjadinya serangan infak ulangan,pasien bisa langsung mendapat penanganan di IGD”,imbuhnya.…

Mengenal Alat Kesehatan Di Rumah Sakit

Ada banyak sekali alat – alat medis atau alat kesehatan di Rumah Sakit dan Klinik. Alat ini berperan penting dalam proses perawatan dan juga penyembuhan penyakit pasien. Diantara sekian banyak alat – alat medis, ada yang memiliki fungsi khusus, namun ada juga yang memiliki fungsi secara umum. Pada kesempatan ini penulis ingin mengajak para pembaca untuk mengenal beberapa macam alat – alat kesehatan yang ada di Rumah Sakit, Klinik dan juga pusat layanan kesehatan lainnya.

Untuk mempermudah pengenalan alat – alat kesehatan tersebut, ada baiknya kita sebutkan apa saja yang ingin kita pelajari pada kesempatan kali ini. Pertama alat medis secara umum, yang kedua khusus penanganan pasien bayi dan yang ketiga yaitu alat – alat medis yang untuk operasi.  Tiga jenis alat ini tentu tidak hanya satu macam, ada banyak sekali, namun kita akan sebutkan satu jenis dari masing – masing kategori  yang akan kita bahas.

1# – Alat Kesehatan Umum

Contoh alat kesehatan yang umum atau digunakan untuk semua orang seperti alat suntik, alat infus, termometer dan juga alat lainnya yang pemakaiannya tidak diperuntukan khusus bagi pasien tertentu. Termometer misalnya, baik anak, dewasa atau bayi apabila mereka sakit panas, pasti akan digunakan termometer sebagai alat pengukurnya. Hanya saja mungkin sedikit bebeda jenisnya.

2# – Alat Kesehatan Khusus Pasien Bayi

Adapun jenis yang kedua ini, tidak semua orang menggunakannya. Alat – alat ini khusus digunakan untuk pasien neonatal atau bayi. Baik itu bayi yang baru lahir ataupun bayi yang mengalami gangguan penyakit tertentu. Contoh alat khusus untuk bayi diantaranya Inkubator Bayi.

Alat ini hanya digunakan untuk bayi dan tidak digunakan untuk pasien yang lain. Inkubator Bayi biasanya digunakan untuk merawat bayi yang terlahir prematur agar intensif dan mendapatkan pengawasan secara langsung dari dokter. Harga inkubator bayi ini cukup mahal untuk kalangan pribadi, sehingga jarang orang yang memiliki alat ini agar bisa merawat bayinya dirumah. Selain beresiko juga kebanyakan orang tidak mengetahui kondisi kesehatan si bayi secara detail.

3# – Alat Operasi

Satu lagi, alat kesehatan yang juga merupakan alat khusus digunakan dalam tindakan yang khusus juga. Alat – alat Operasi. Ada banyak sekali alat operasi namun ada beberapa alat yang khusus digunakan untuk kegiatan ini seperti alat bedah elektronik dengan sistem laser, meja operasi dan juga lampu operasi.…